DIA MULAI BERDIRI, SETELAH 11 TAHUN LUMPUH, HINGGA …………. - Blog - Ruqyah Learning Center Indonesia

Go to content

Main menu:

DIA MULAI BERDIRI, SETELAH 11 TAHUN LUMPUH, HINGGA ………….

Ruqyah Learning Center Indonesia
Published by in Kajian Fitrah ·
Tags: Fitrah
    Suatu hari ada pesan via WA masuk. Kalimatnya sederhana dan membuat saya tidak bisa berkata-kata.
"Ust, kapan bisa ke rumah, sy ingin bisa berjalan”…….
Saya sudah berjanji ke rumahnya beberapa bulan lalu, saat pertama kali ibundanya menghubungi saya. Tetapi selalu terkendala waktu. Jarak rumahnya lumayan dari rumah saya. Sekitar 2-2,5 Jam naik bis. Ibunya sudah beberapa kali juga menghubungi saya, tetapi karena kendala waktu, saya sarankan beliau menghubungi teman saya, yang lebih dekat rumahnya.
  Tapi hari itu, Arman (nama samaran), menghubungi saya sendiri, dengan kalimat yang membuat saya tertegun…… "saya ingin bisa berjalan”. Terasa harapannya sangat besar, dan mungkin Arman berharap saya bisa membantu. Padahal saya juga tidak tahu apa yag harus dilakukan, karena sakitnya sudah sangat lama, dan secara fisik sangat lemah. Tapi anak ini menghubungi saya dengan harapan yang besar.
Hmmmm…
   Entahlah..Mungkin Alloh hendak ‘menasihati’ saya melalui keluarga ini. Arman, Usia 12 Th, Lumpuh total. Di chat awal awal saat ibunya menghubungi saya, beliau tunjukkan foto Arman yang masih bisa duduk di kursi roda. Sesekali Arman juga WA saya. Arman adalah anak yang cerdas, saat usia 0-1 tahun, perkembangan fisiknya melebihi anak-anak seusianya. Dia sudah bisa berjalan sejak usia 9 bulan. Maa Syaa Alloh.
Hari itu..Saya silaturrahmi ke rumah Arman. Nampak seorang ibu, yang terlihat lelah, beserta adik laki-lakinya menyambut saya. Sesaat kemudian datang pula kakek Arman. Mereka hangat, ramah, dan nampak sebagai keluarga yang sudah mulai “hijrah”. Sang Kakek bersemangat saat menceritakan perjalanan hidupnya, hingga perjalannya mendapatkan hidayah. Maa syaa Alloh.
“Bu, Ayahnya Arman dimana?, tanya saya, karena dari awal tidak terlihat ayah Arman hadir.
“ beliau masih dijalan, dari tadi malam sudah saya ingatkan bhw pagi ini ustad datang”. Jawab beliau.
“dari beberapa kali ikhtiar, beliau seperti menghindari, beliau seperti tidak bersedia atau keberatan mendampingi proses ruqyah”, imbuhnya.
“sudah diruqyah?’ tanya saya.
“sudah Ustadz, saya sudah hubungi teman Ust yang nomornya ustadz kasih tempo hari.
Alhamdulillah beliau rutin tiap pekan datang meruqyah Arman’. Ibu itu menjelaskan.
“Alhamdulillah, bgmn kondisi saat ini?’ tanya saya.
“Arman tenang ust, tp kondisi fisik belum ada perkembangan, bahkan saat ini Arman lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Tubuhnya tidak sekuat dulu, tidak bisa terlalu lama di kursi roda”. Jawab beliau.
Beberapa saat kemudian..
Datang ayah Arman, beliau duduk bersama kami.
“Ngapunten, apakah kita bisa bicara bertiga dulu?” pinta saya.
Kakek dan adik ibu itu pun menyadari akan ada pembicaraan pribadi. Beliau berdua masuk ke dalam.
Tinggal kami bertiga di ruang tamu, saya, ibu dan ayah Arman.
“Bu, gimana awal sakitnya Arman?” tanya saya.
Lalu mengalirlah cerita tentang awal sakitnya hingga Arman berusia 12 tahun. Anak ini tidak bisa berjalan sejak usia 1 tahun kurang lebih, padahal awalnya sehat sekali.
“Bu, pak, maaf, bolehkah saya bertanya tentang hal lain? Bukan tentang sakit Arman. Tetapi saya meminta kejujuran bpk dan ibu.” Pinta saya.
“Silahkan Ust”, jawab ibu itu. Ayah hanya duduk terdiam.
“ Bu, apakah saat hamilnya Arman, ibu sering konflik dengan suami, memendam kemarahan, kekecewaan dan lain lain?” saya tanyakan beberapa hal yang biasa jadi standar diagnosa di RLC.
"Ust, konflik dalam rumah tangga saya mungkin juga dialami keluarga lain. Saya bisa memaklumi permasalahan permasalahan yang ada.
Meskipun ayahnya Arman sering bersikap yang menyakitkan, tapi saya sudah memaafkan. Saya bisa memaklumi jika suami jarang dirumah, atau hal lain. Hanya 1 kejadian yang membuat saya sangat terluka, suami tidak peduli pada saya. Saat saya melahirkan Arman, suami tidak mau mengantar saya ke bidan. Saya harus jalan sendiri, dan suami memilih untuk tidur."
Tangis beliau meledak….
"Saat kondisi Arman mulai melemah, saya harus bolak balik keluar kota untuk periksa, itupun saya sendiri yang lakukan, saya gendong Arman kesana kemari untuk berobat."
"Setiap hari saya ngurus Arman sendiri, mulai bangun tidur hingga tidur kembali."
"Saya sama sekali tidak keberatan dengan semua ini. Saya hanya 1 hal, bantu saya membesarkan dan menguatkan hati Arman. Tunjukkan sikap sayang pada arman, hanya ini yang sy minta."
"Tapi, ayahnya tidak pernah bicara dengan Arman, tidak pernah menguatkannya."
"Saat saya kelelahan, hati saya sedih, justru Arman yang menasihati dan menguatkan saya."
"Setiap hari saya menggendong Arman kemanapun dia inginkan sampai usia 12 tahun ini."
"Arman sangat halus hatinya, dia ingin disayang oleh ayahnya."
"Dia sudah lemah, saya tidak ingin menambah beban hatinya, jangan sampai dia merasa menjadi beban keluarga atau tidak diinginkan. Saya berusaha membuat dia selalu semangat dan jangan sedih."
Air mata beliau terus mengalir. Ayah arman tunduk terdiam, Alhamdulillah Alloh mudahkan nasihat mengalir untuk beliau berdua. Saya minta beliau berdua mengkhilaskan untuk saling memaafkan, demi kebaikan Arman, demi menguatkan jiwa Arman, agar dia bahagia melihat ayah dan ibunya. Tetapi ayah tetap dengan sikap diamnya meski mengangguk ketika saya minta untuk saling memaafkan. Ekspresinya datar. Wallohua’lam
Kami bersama ke kamar Arman. Saya lihat Arman terbaring di tempat tidur. Wajahnya bersih bersinar. Dia tersenyum.
“Mas, gimana kabarnya?” tanya saya.
“Alhamdulillah baik ust.” Jawabnya singkat.
“Mas, coba genggamkan tangan”, saya ingn melihat sejauhmana kelumpuhan yang terjadi.
Dengan susah payah dia mencoba menggenggamkan jarinya. Nyaris tidak ada perubahan dalam genggamannya. Ujung-ujung jarinya hanya bergerak sedikit.
“Mas, nanti tiap hari latihan genggamkan jari ya. Biar syaraf syarafnya terlatih”. Pinta saya.
Kemudian saya minta Arman menggerakkan bahu dan punggungnya, mencoba untuk memiringkan badan. Raut mukanya terlihat dia sedang berupaya keras memiringkan badannya. Posisi badannya tidak bergerak sedikitpun. Saya coba bangunkan, badannya lemas sekali. Tulang-tulang punggungnya juga seakan-akan lemas. Ketika membaringkannya kembali, saya salah meletakkan posisi berbaring sehingga sedikit menekuk punggungnya. Dia minta tolong ibunya untuk meluruskan punggungnya di pembaringan. Dalam hati saya hanya berpikir, apa yang harus saya lakukan untuk kondisi seperti ini??
Entahlah, yang jelas Alloh telah menakdirkan saya ada dihadapan anak ini. Artinya ada yang harus saya perbuat. Saya sentuh bahunya sambil memulai nasihat…..
“Mas, boleh saya menyampaikan 1 hal, sebelum ruqyah dimulai?”. Dia mengangguk.
“Mas, nanti di akhirat para ahli ibadah mendapatkan semua kebaikan dan pahala dari sisi Alloh. Sesaat kemudian Alloh hadirkan orang lain, yang dia bukan Ahli ibadah. Ternyata, Alloh mencurahkan kebaikan dan pahala berlipat ganda pada orang ini. Jauh melebihi par ahli ibadah itu. Hingga membuat para ahli ibadah itu “iri” kepada orang ini.”
“Siapakah orang ini, apa amalnya?”
“Dia adalah orang yang semasa hidupnya di dunia, selalu mengalami musibah, ujian dan kesulitan. Dia bukan ahli ibadah, tapi dia sabar dan istiqomah dalam menjalani musibah itu. Dia pandai bersabar dan bersyukur, dia tidak berkeluh kesah. Jika ahli ibadah beribadah hanya diwaktu waktu tertentu. Maka orang yang tertimpa musibah pada hakikatnya dia beribadah sepanjang waktu.”
“Semoga Alloh masukkan mas Arman dalam golongan orang seperti ini.”
“Yang kedua, mas, bersyukurlah pada ibu yang telah sabar merawat mas Arman hingga saat ini. Ringankan beliau dengan bersabar, hindari berkeluh kesah agar ibu kuat. Doakan agar ibu sehat selalu. Maklumi dan maafkan ibu jika mungkin sekali waktu, beliau lelah.”
“Mas Arman mau memaafkan ibu?” tanya saya
“Iya ustadz” jawabnya
Ucapkan sekarang pada Alloh : "Ya Alloh, Alhamdulillah, sy bersyukur padaMU karena Engkau berikan padaku Ibu yang baik. Ya Alloh saya ridho untuk memaafkan ibu.”
Arman mengulang ulang kalimat tersebut. Air mata mengalir dari sudut matanya, kemudian saya minta ibunya mendekat pada Arman untuk meminta maaf dan mendoakannya. Tangisan beliau pecah, saat memeluk Arman. Setelah beberapa saat…
“Yang ketiga, maukah mas Arman menyempurnakan semua kebaikan bagi Mas sendiri? Agar Alloh sempurnakan pahala bagi Mas?” tanya saya.
“In syaa Alloh” jawabnya.
Saya tatap lekat matanya sambil menyentuh bahunya.
“Mas, sempurnakanlah kebaikan bagi mas sendiri."
"Sempurnakanlah dengan ……………..,bersyukur dan memaafkan Ayah.”
“Mas bisa melakukannya? Ikhlas memaafkan ayah?”
“iya, saya maafkan ayah” jawabnya sambil menganggukkan kepala.
Baik, sekarang ucapkan : "Ya Alloh, Alhamdulillah, sy bersyukur padaMU karena Engkau berikan padaku ayah yang baik. Ya Alloh saya ridho untuk memaafkan ayah.”
Dia terus mengulang-ulang kalimat tersebut, hingga air matanya kembali mengalir. Saya minta ayahnya mendekat dan memeluk Arman.
Tidak ada ekspresi dan suasana seperti saat ibu memeluk Arman.
“ Mas, ulang ulang kalimat bersyukur pada Ayah dan Ibu, serta memaafkan beliau berdua. Setelah ini sy bacakan al Qur’an, Mas dengarkan baik baik.”
Kemudian saya bacakan beberapa ayat ruqyah dan pembatal ain, doa untuk orang tua dan lain lain. Arman larut dalam bacaan tersebut. Wajahnya sembab, demikian juga saya dan beberapa yang hadir. Setelah itu, Arman meminum air ruqyah untuk terapi ain. Karena saya menduga ada ain dari beberapa orang yang ada di keluarganya. Sesi ruqyah selesai, Kami sholat bersama. Selesai sholat Arman memanggil saya.
“ust, ayah belum minta maaf, beliau tadi hanya diam saat memeluk saya”. Jelasnya.
“tidak apa apa mas, dalam batin beliau, in syaa Alloh beliau bersyukur punya anak sebaik mas Arman dan beliau menyesali semua yang pernah beliau lakukan dimasa lalu. Hanya saja mungkin beliau kesulitan mengungkapannya. Sabar dan teruslah berbuat baik untuk beliau” jawab saya.
Saya pamit…
Setelah beberapa bulan, Ada telpon masuk..ada suara panik diujung telepon
“Ust, saya ibunya Arman, sy di ICU sekarang. Arman gagal nafas. Saya harus bagaimana?"
"Dokter bilang, paru parunya tidak bisa berfungsi sbgman seharusnya. Perlu dipasang pipa, dan alat lain, dimasukkan dari tenggorokannya."
"Itupun dokter tidak bisa memastikan perkembangan setelahnya, bahkan mungkin setelah dipasang akan koma, karena kondisinya lemah. Saya tidak tega. Tapi kalo dibiarkan tidak dipasang, artinya saya hanya diam tinggal menunggu waktu,....."
"saya harus bilang apa ke Arman kalo Arman nanya… saya harus gimana“ beliau menangis.
“arman sadar sekarang?” tanya saya
“Iya Ust” jawabnya.
“ajak Arman dzkir, dan ikuti penjelasan dokter. Ini diluar pengetahuan saya. Ikutilah nasihat dokter”. Jawab saya.
Menjelang subuh, saya dapat kabar bahwa Arman telah meninggal. Setelah perjuangan 11 tahun dalam kelumpuhan. Dari urutan peristiwa yang terjadi, saya memaklumi “kemunduran” kondisi fisik Arman sampai akhirnya meninggal itu. Hingga akhirnya ada data lain yang membuat saya berpikir ulang ……..

Beberapa bulan kemudian Ramadhan 2017.
Ada sms dari ibu Arman.
Ibu : “ust, Arman meninggal karena sakit ataukah karena gangguan?”
Saya : Semua yang telah terjadi pada Arman adalah takdir yang memang harus terjadi. Alloh bisa memilihkan jalan apa saja untuk membuat takdirNYA terjadi. Semoga Alloh limpahkan kesabaran kepada Ibu dan keluarga. Aamiin.
Ibu : saya yakin hal itu. Tapi terkadang saya lupa. Alloh memberikan kekuatan yang luar biasa pada Arman. sejak diruqyah dia mampu belajar berdiri, hingga memberikan harapan yang sangat besar kepada kami dan Arman. Dia yakin mukjizat bisa terjadi.
Saya : Maksudnya setelah saya ke rumah tempo hari?
Ibu : iya ust, perkembangan setelah ruqyah sangat banyak. Arman banyak impiannya. Selama ini Arman adalah satu satunya teman saya bicara. Saya ingat impaiannya yang pernah disampaikan ke saya. Dia ingin punya panti asuhan, dan panti untuk tunadaksa. Selain itu, setelah perkembangan terakhir dia mulai belajar berjalan, dia punya target ramadhan ini sudah bisa berjalan… dia pernah mengatakan
" ibu, aku pergi ingin haji sama ibu”
"ibu, aku ingin menjaga adik,supaya tidak mengalami spt saya, tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah”
"ramadhan nanti semoga aku sudah bisa berjalan, aku ingin terawih sama saudara-saudara dan setelah lebaran nanti aku ingin ke panti untuk membagi santunan”
Setelah pembicaraan ini, saya menduga ada hal lain yang “menimpa” Arman yang menyebabkan gagal nafas. Tapi takdir telah terjadi.
Semoga Alloh merahmati beliau. Aamiin

© m. nadhif khalyani
RLC Indonesia


No comments

Ruqyah Learning Center
Jl. Gunung Ijen Gang 2 No.2 Tompokersan
Lumajang - Jawa Timur, INDONESIA
Back to content | Back to main menu