Sensasi Sebelum Terapi Ruqyah Antara Benar Reaksi, atau Sekedar Sugesti dan Ilusi?
October 6, 2020
Tidak Setiap Hal Bisa Langsung Dikaitkan Dengan Dunia Jin
October 6, 2020

Agar Ruqyah Tidak Berbau Hipnosis

Framing Dalam Ruqyah
Bagian 3.
Sub-tema : Agar Ruqyah Tidak Berbau Hipnosis
By Ust. M. Nadhif Khalyani
Salah satu tabiat penting yang terjadi dalam dunia ruqyah adalah, apa yang berlaku dalam dunia ruqyah sama dengan apa yang berlaku dalam dunia pengobatan, yakni sangat memperhatikan prosedur.
Adanya prosedur dalam terapi bertujuan agar terapi memiliki standar. Opini pribadi tidak diterima kecuali setelah memenuhi standar yang ditetapkan ulama. Hal ini untuk menghindari agar ruqyah syar’iyyah tidak mudah tercampuri dengan hal hal yg tidak sesuai.
Mengapa standar ini perlu dilakukan?
a. Berkaca dari penjelasan Syaikh Abul Barra’ bahwa ruqyah adalah bagian dari dien. Maka wajib ada hujjah di dalamnya
b. Ruqyah sangat erat kaitannya dengan hal ghaib maka pendapat pribadi, sangat rentan untuk salah. Disinilah perlunya hujjah nash dan pendapat ulama
c. Ruqyah sangat erat kaitannya dengan psikis. Maka jika tidak mengikuti prosedur, akan ada peluang proses ruqyah berubah menjadi proses hipnosis.
Pada poin inilah akhirnya kita sadari bahwa pendapat , dan contoh para ulama benar benar sangat diperlukan. Beberapa hal yang bisa kita pegang agar ruqyah tidak mengarah pada praktek hipnosis:
a. Berpegang pada nash.
Ruqyah terikat dengan kaidah, sbgmana pengobatan lainnya. Salah satu kaidah tsb adalah wajibnya berpegang pada nash.
Jika bentuk terapi telah disandarkan pada nash, maka praktek tsb dengan sendirinya relatif selamat dari sebutan sbg praktek hipnosis. Dan kita meyakininya sbg ittiba’, mengikuti perintah.
Misalnya, pasien sakit, lalu dibacakan Al Fatihah dan ayat Qursy. Stlh itu pasien kesurupan. Maka, kita dengan tenang menyimpulkan bhw ini bagian dari fadhilah Al Qur’an, sbg syifa.
Bacaan ini diperintahkan, Nabi yang menjamin, prosesnya sama dg yg dilakukan Nabi dan para sahabat.
Maka proses kesurupan tersebut tidak bisa disebut sebagai histeria atau sdg tjd hipnosis.
b. Tidak mengembangkan tafsir, berpegang pada tafsir yang telah disebutkan oleh ulama.
Hindari memberikan tafsir baru atas nash yang ada. Yang banyak terjadi adalah, kita menjadikan pengalaman seolah sebagai tafsir baru atas nash. Hal ini sangat beresiko.
Contoh utk ini silahkan baca Artikel Framing Dalam Ruqyah Bagian 1 &2
c. Tidak mengembangkan aplikasi dari nash.
Nah kita ingin lbh jauh mendalami hal ini. Komitmen dalam berpegang pada nash salah satu maksudnya adalah agar kita berhati hati. Tidak hanya dalam memaknai tetapi juga dalam penerapannya. Terkadang ada banyak nash yang shohih, tetapi dalam penerapannya tidak sesuai dengan konteks nahs tersbut. Hal ini sangat lazim terjadi dalam dunia ruqyah, krn sejak awal sebagian sisi dari ruqyah adalah tajribi, percobaan, dan setiap orang berpeluang untuk bereksperimen.
Mari kita detailkan cara memahami poin Tidak Mengembangkan Aplikasi nash dalam meruqyah.
  • Para ulama membuat Ijma dalam ruqyah (silahkan dibuka di kajian sebelumnya ttg 3 ijma ulama).
Adanya ijma ini artinya, dalam dunia ruqyah sangat terikat dengan batas. Sejak awal ruqyah syar’iyyah itu diposisikan oleh para ulama sbg amal yang ada batasan batasan dan kaidah. Bukan bebas. Bukan setiap orang bisa berinterpretasi.
Demikian juga tidak setiap orang bisa dengan mudah membuat pengembangan.
Ini konsekuensi dari adanya ijma.
Persoalannya apakah kita, bersedia berhenti pada batas batas ini. Batas batas adalah batas yang dipahami, ditetapkan dan diputuskan ulama, bukan apa yg kita pahami, kita tetapkan sendiri atau kita putuskan sendiri. Itu sebabnya di Daurah 3, syaikh Abul Barra menjelaskan tentang syarat syarat aspek Hissiyah (smg bisa dibahas dilain kesempatan).
Berdasarkan hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu dalam Shahiih Muslim, ia berkata: “Di masa Jahiliyyah kami biasa melakukan ruqyah, lalu kami bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Bagaimana menurutmu, wahai Rasulullah?’ Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ.
Tunjukkanlah kepadaku ruqyah kalian. Tidaklah mengapa ruqyah yang di dalamnya tidak mengandung syirik.’”
Hadits ini dengan sangat jelas menyajikan informasi bahwa aplikasi ilmu ruqyah itu perlu verifikasi dari orang yang berhak, yakni ulama.
  •  Memperhatikan prosedur, jangan membuat prosedur baru, kecuali setelah menunjukkannya pada ulama.
Hal ini agar penafsiran nash dan aplikasinya relevan, agar tidak terjadi mis-persepsi
1. Nabi sangat memperhatikan prosedur
Ada seseorang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’
Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’
Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya,
Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’
Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga,
Nabi tetap berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’
Nabi bersabda: ‘Allah Maha Benar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’
Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.”(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini mengajarkan hal yang sangat penting, yakni thibun Nabawi sangat memperhatikan dosis alias prosedur dalam terapi.
Demikian penjelasan Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Thibbun Nabawi
“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan mengenai ilmu kedokteran yaitu obat harus sesuai dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.”(Thibbun Nabawi hal 29, Darul Hilal)
Ibnu Hajar Al Atsqalani juga berpendapat demikian
Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan dan daya tahan fisik…karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit, jika dosisnya berkurang maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari 10/169-170, Darul Ma’rifah)
Apa yang bisa kita pahami dari hal ini?
Ruqyah dan pengobatan itu tabiatnya adalah terikat dengan prosedur. Tidak bebas. Jika kita menyangka thibbun Nabawi, termasuk ruqyah, itu bebas dari prosedur, maka kita salah memahami konsep thibbun Nabawi. Hal ini juga berlaku dlm ruqyah. Krn ruqyah adalah salah satu bagian dari thibbunnabawi.
2. Selaraskan antara nash dan aplikasinya
Misalnya hadits berikut ini, perhatikanlah keutamaannya dan cara penerapannya. Hadits habbatussauda, zaitun, zam zam, kurma ajwah….
  • Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat untuk segala macam penyakit, kecuali kematian.” (Shahih Muslim (nomor 4104) )
  • “Makanlah Zaitun dan minyakilah rambut dengan Zaitun. Karena ia dari pohon yang berkah” (HR. Tirmidzi no. 1852, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
  • Air terbaik di seluruh permukaan bumi adalah air zamzam, di dalamnya terdapat makanan (yang membangkitkan) selera, obat dari berbagai penyakit” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 11/98)
  • “Sesungguhnya demam berasal dari panas neraka, maka dinginkanlah dengan air zamzam” (HR. Ahmad no. 2649)
  • Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir (HR Al-Bukhari (no. 5769)
dan masih banyak hadits hadits lainnya.
Dari beberapa hadits diatas, maka bagaimana aplikasi atau penerapannya?
Cara penggunaan bahan bahan diatas adalah dengan meng-konsumsinya, atau menggunakannya utk badan. Baik dengan meminum, memakan, mengoleskannya.
Perhatikanlah hadits hadits diatas dengan seksama. Krn di hadits tsb Sudah ada prosedurnya.
  • Zam zam bisa utk dikompreskan, dan diminum.
  • Habbatussauda, zaitun, madu, bekam dll semua prosedurnya sudah ada yakni, gunakan untuk fisik, diminum atau dioleskan, dll.
Bgmna jika habbatusauda, madu, kurma digantung di depan pintu, dipake sbg kalung, atau cukup dilihat FOTOnya?
Ini diluar prosedur yang dijelaskan dalam nash dan pendapat ulama.
Demikian juga bidara.
Dalil dalil ttg bidara menunjukkn bhw bidara bisa diminum, dipake mandi dan hal dhohir lainnya.
Bagaimana jika dipegang utk menakuti jin atau fotonya ditunjukkn pd pasien?
Jika foto bahan bahan tersbut diasumsikan ditakuti jin, maka foto Mus-haf mestinya jauh lebih ditakuti jin krn didalamnya Al Qur’an adalah syifa, didalamnya ada Al Baqarah yg jelas disebut sbg pembatal sihir, ada ayat qursyi dll yg fadhilahnya sbg perlindungan.
Tetapi menunjukkan foto mushaf bukanlah cara yg sesuai prosedur yg telah disebutkan ulama.

Prosedur baku nya, misalnya :

  • Al Qur’an dibaca
  • Madu diminum dll
  • Zaitun diminum dan dioles
  • Al ‘Ud dihirup
  • Bekam caranya dg cara spt yg kita pahami
Ini yang kita maksud perlunya kesesuaian nash dan aplikasinya.
Karena jika kita mengembangkan sendiri cara penerapannya, akan sangat mungkin kita terjebak pada proses hipnosis saja. Dalam proses hipnosis, pengaruh itu terjadi karena faktor sugesti dari apa yang dilihat, didengar dan diframing.
Bagaimana agar terhindar dari praktek hipnosis?
Cukupkan aplikasinya sesuai kaidah kaidah, nash dan pendapat ulama. Hanya ini jalan aman agar ruqyah bisa dijalankan dengan tenang.
Wallohua’lam