Agar Ruqyah Tidak Berbau Hipnosis
October 6, 2020

Sensasi Sebelum Terapi Ruqyah Antara Benar Reaksi, atau Sekedar Sugesti dan Ilusi?

Framing Dalam Ruqyah
Bagian 4
Sub tema : Sensasi Sebelum Terapi antara Benar Reaksi, atau Sekedar Sugesti dan Ilusi?
Ada hal unik yang kadang tidak disadari dalam proses terapi. Meski tentu hal ini debatable. Karena pengalaman dan cara memahami pengalaman tersebut berbeda-beda antara satu terapis dengan terapis lainnya.
Menurut saya, ini bukan tentang benar dan salah, tetapi keberagaman interpretasi adalah khazanah yang perlu dikembangkan, dirangkum dan dibuat model. Salah satu hal unik tersebut adalah fenomena pasien telah tersugesti sebelum terapi. Baik reaksi saat bertemu terapis, melihat wajah, mendengar nama, melihat foto, dll. Sekali lagi, hal spt ini adalah khazanah keilmuan, wajar jika dikaji.
Syaikh Abul Barra pernah ditanya, dan beliau sebutkan dalam buku beliau Ensiklopedi Ruqyah Syar’iyyah, Jilid 11. Dalam buku ini terdapat kalimat sebagai berikut :
Ada orang mengatakan bahwa, pasien pergi ke tempat terapi, dalam keadaan telah terkondisi, baik melalui informasi yang didengarnya, atau dilihatnya secara langsung tentang kesurupan, sihir atau ain. Kemudian, saat terapi terjadi hal hal seperti itu, tindakan tindakan aneh yang mengesankan kepada terapis bahwa dia sedang mengalami salah satu dari jenis gangguan. Apakah anggapan ini benar?
Syaikh Abul Barra menjawab :
Benar, itulah kenyataan yang terjadi pada sebagian kasus, namun tidak berarti semua kasus demikian adanya. Hal ini mengharuskan pada terapis untuk meneliti dengan cermat dan tidak terburu buru memberikan vonis. Hal ini pula mengharuskan terapis bertaqwa kepada Alloh, dan memperhatikan semua gejala penyakit pasien dengan seksama, sebaik mungkin, mengikuti kaidah kaidah dan asas ruqyah, tidak mendasarkan pada dugaan dugaan tetapi dengan penelitian yang cermat, bertanya pada keluarga pasien, berpijak pada nash2, menjaga keselamatan pasien.
Dari penjelasan ini, kita bisa dapati bahwa fenomena “reaksi” tidak selalu terkait dengan jin. Tetapi reaksi pada pasien terkadang adalah faktor sugesti yang telah terbentuk dalam diri pasien. Sugesti ini, menurut buku ini disebabkan oleh sesuatu yang didengar, dilihat, diyakini oleh pasien.
Artinya kondisi “tersugesti” ini bisa berasal dari apa saja yang berulang kali didengar, dilihat, oleh pasien, bisa dari media, kalimat dari orang yang dipercaya dll. Dalam Ilmu Psikologi hal seperti ini juga isebutkan demikian
Adakah referensi klasik yang bisa jadi pertimbangan?
Di Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim menjelaskan tentang seseorang yang mengalami ilusi. Ia seolah mendengar sosok berbicara dengannya, juga seseorang yang seolah melihat sosok yang muncul dihadapannya. Lalu ia bersumpah bahwa ia telah melihat. Namun, kata beliau, pada orang ini sosok yang ia dengar, sosok yang ia lihat adalah dari dirinya sendiri (pikirannya sendiri), dan tidak ada sosok yang datang dari luar.
(Madarijus Salikin 1/45-48)
Dalam dunia terapi ruqyah, kita dihadapkan pada fakta baru yakni faktor psikis yg sdg tersugesti. Ini tidak ada kaitannya dengan dunia jin. Tetapi murni masalah psikis. Referensi ruqyah yang sangat layak untuk dipelajari tentang hal ini adalah buku karya Syaikh Ali Murtadha As Sayyid. Karena buku ini mempertimbangkan sedikit sisi ilmu psikologi.
Dalam dunia psikologi, juga menghadapi fenomena yang susah dicerna oleh Ilmu Psikologi, dan Saya tidak tahu apakah para psikolog mau menerimanya, yakni fenomena gangguan jin, sihir dan ain.
Jadi dalam dunia ruqyah dan dunia psikologi ada sisi ilmu yang sebenarnya bisa saling melengkapi, jika keduanya di dudukan dengan rujukan ulama. Ini sebabnya bbrp bulan lalu kita selenggarakan DN3, bersama syaikh Abul Barra’ dengan tajuk membangun relasi ruqyah syar’iyyah dan ilmu kontemporer.
Sebagai penutup, sekedar ilustrasi untuk memahami fenomena ‘psikis’ ini. Suatu saat, ada salah seorang teman, Ust Firdaus, yang akan menterapi pasien. Lalu beliau keluar dari kamar, sambil menyodorkan segelas air kepada pasien ini. Dan disuruhnya pasien ini minum.
Lalu beliau bertanya, “Apa yang dirasakan?”
Pasien ini menjawab, “ saya merasakan mual, panas, sepertinya mau reaksi setelah minum air ruqyah tersebut”.
Kawan Saya ini tersenyum dan bilang, “ itu air biasa, tadi barusan saya ambil dari situ, tidak ada bacaan apapun yang saya baca”.
Jadi apa yang membuat sensasi tadi?
Sensasi fisik tersebut sama persis dengan kalimat yang ada di Bukunya Syaikh Abul Barra’ diatas.
Ini adalah salah satu fenomena sugesti.
Maka PR bagi kita, para pasien dan terapis adalah berhati hati dalam memberikan statement, hati hati dalam menyimpulkan reaksi, hati hati saat membaca berita, nonton video dll. Tempatkanlah semua itu sebagai khazanah saja.
Selalu berikan Ruang bernama “Kemungkinan”, dan fokus pada Diagnosa.
Sebagaimana jawaban Syaikh Abul Barra’ tentang pasien yang tersugesti :
Benar, itulah kenyataan yang terjadi pada sebagian kasus, namun tidak berarti semua kasus demikian adanya. Hal ini mengharuskan pada terapis untuk meneliti dengan cermat dan tidak terburu buru memberikan vonis. Hal ini pula mengharuskan terapis bertaqwa kepada Alloh, dan memperhatikan semua gejala penyakit pasien dengan seksama, sebaik mungkin, mengikuti kaidah kaidah dan asas ruqyah, tidak mendasarkan pada dugaan dugaan tetapi dengan penelitian yang cermat, bertanya pada keluarga pasien, berpijak pada nash2, menjaga keselamatan pasien.
Ust. M. Nadhif Khalyani
Wallohua’lam
Baarakallohu fiikum