Agar Ruqyah Tidak Berbau Hipnosis
October 6, 2020
FRAMING DALAM DIAGNOSA ITU BAHAYA
October 7, 2020

Tidak Setiap Hal Bisa Langsung Dikaitkan Dengan Dunia Jin

Framing dalam Ruqyah
Bagian 2.
Sub-tema : Tidak Setiap Hal Bisa Langsung Dikaitkan Dengan Dunia Jin
By. Ust. M. Nadhif Khalyani
Pada beberapa kesempatan, Syaikh Abul Barra menjelaskan tentang wajibnya kembali kepada Nash dan perkataan ulama yg ‘alim. Mengapa kita perlu menyandarkan hal tsb?
Kita sedang memasuki wilayah ghaib. Di wilayah ini, semua orang bisa berinterpretasi sendiri sendiri. Maka perlu pagar pembatas agar opini terhadap hal ghaib tidak menjerumuskan kepada was was..
Sekali lagi mengapa?
a. Karena konsep, cara berpikir yang berkembangan dalam dunia supranatural sangat banyak dan terkadang diantara konsep tersebut “teradopsi” dalam dunia terapi.
b. Imbasnya, dalam memahami kejadian kejadian, menjadi rancu antara nash (plus pendapat) ulama dan pengalaman dunia supranatural.
c. Terkadang, yg terjadi adalah menafsirkan nash berdasarkan pengalaman lapangan. Jika hal tsb hanya sekedar untuk wawasan tidak ada masalah. Namun yg rumit adalah pengalaman lapangan dan informasi dari dunia supranatural diposisikan sebagai tafsir atas nash. Ini persoalan penting yg perlu diletakkan pada porsinya.
d. Jika point c ini terjadi, maka setiap orang menjadi punya peluang untuk memahami nash dg caranya sendiri sendiri. Inilah poin penting yang perlu dijaga agar tidak terjadi.
Bagaimana caranya agar tetap dalam batas?
a. Ambillah penjelasan para ulama ketika mereka menafsirkan nash terkait dengan jin, meskipun kita dapati data data di lapangan yang sesuai dg konsep ada di dunia supranatural.
Ini sekedar contoh utk memahami hal ini.
Hadits tentang Anjing dan Keledai
Apabila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz)kepada Allah, karena mereka melihat sesuatu yang tidak kalian lihat’.”( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 29797; Ahmad 3/306 dan 355; Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 1234)
Berlindunglah kepada Allah, misalnya dengan mengucapkan “A’udzu billahi minas syaithanir raajim” atau yang lainnya dari lafadz ta’awwudz. Karena keledai tersebut melihat syaitan.( Tuhfatul Ahwadzi 9/300, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, syamilah)
Contoh Pendapat Ibnu Hajar tentang hadits berikut
Apabila kamu mendengar ringkikan keledai, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah dari godaan setan, karena dia melihat setan. Dan apabila kamu mendengar ayam jantan berkokok, maka mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat.( HR. Bukhari no. 3303 dan Muslim no. 2729.)
Ibnu Hajar Al Atsqalani berpendapat
وللديك خصيصة ليست لغيره من معرفة الوقت الليلي
“Ayam mempunyai kekhususan yang tidak ada pada yang lainnya yaitu mengetahui waktu-waktu malam.( Fathul Baari Ibnu hajar AL-Asqalani, 6/353, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah)
Ibnu Hajar memberikan batasan pada tema ini.
Dari nash dan pendapat ulama ini, kita dapati informasi tentang binatang yang bisa dikaitkan secara langsung dengan dunia ghaib.
Dari hadist dan pendapat ulama ini akhirnya kita bisa dg jelas melihat kaitan antara suara anjing dan keledai dengan kemunculan syetan.
Kepastian dari nash dan pendapat ulama ini adalah validator, yg memastikan dugaan adanya jin yg berkeliaran, dengan tanda berupa suara anjing atau keledai. Atau kokokan ayam sbg tanda kehadiran malaikat.
Artinya, kita bisa dengan tenang dan yakin menjadikannya sebagai tanda.
Namun apakah hal ini bisa kita lakukan untuk hal lain atau binatang lainnya, karena pengalaman yang kita dapati saat terapi?
Tidak. Sampai kita temukan nash atau pendapat ulama yang menjelaskan hal lain atau binatang lain tersebut.
b. Mengembalikan tafsir hadits kpd penjelasan ulama, dan tidak menafsirkannya berdasarkan pengalaman. Dan tidak perlu “mengembangkan tafsir” yg sdh dibuat ulama.
Ini sekedar contoh.
Dalam dunia supranatural, sangat lazim dikenal tentang cicak/tokek sebagai salah satu wasilah, sarana, atau tanda kemunculan gangguan jin atau sihir.
Pertanyaannya apakah hal ini bisa serta merta diadopsi ke dalam dunia ruqyah?
Padahal banyak kasus di lapangan menunjukkn hal ini, misalnya.
Dalam hadits kita dapati
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238).
Nabi menyebut cicak dan tokek sebagai binatang fasik. Ini artinya binatang ini sering berulah.
Namun ulah seperti apa dan apakah bisa dipahami juga terkait dengan jin?
Dari penjelasan ulama ttg tema membunuh cicak, setidaknya disebabkan karena beberapa motif :
a. Binatang tersebut disifati sebagai hewan yg fasik, menganggu
b. Binatang tersebut berulah saat Nabi Ibrahim dibakar dalam api
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359)
c. Mendapatkan pahala
Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211)
d. Binatang tersebut menimbulkan penyakit
Imam An Nawawi menjelaskan
قال أهل اللغة الوزغ وسام أبرص جنس فسام أبرص هو كباره واتفقوا على أن الوزغ من الحشرات المؤذيات وجمعه أوزاغ ووزغان وأمر النبى صلى الله عليه و سلم بقتله وحث عليه ورغب فيه لكونه من المؤذيات
“Para ahli bahasa mengatakan bahwa cicak dan tokek belang adalah satu jenis, sedangkan tokek belang merupakan jenis cicak yang besar.
Para ahli bahasa sepakat bahwa cicak merupakan binatang yang menyakiti. Bentuk jamaknya adalah auzag dan wazghan.
Nabi SAW memerintahkan dan menganjurkan untuk membunuhnya karena ia merupakan salah satu hewan yang bisa membuat sakit,”
(Lihat Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Sahihi Muslim, Beirut, Dar Ihya’it Turats, 1392 H, juz 14, halaman 236).
Badruddin Al-Aini dalam Umdatul Qari:
ويصير ذلك
مادة لتولد البرص
“Cicak tersebut terdapat zat yang dapat menimbulkan penyakit kusta,” (Lihat Badruddin Al-Aini, Umdatul Qari Syarah Sahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya Turats, tanpa tahun, juz XV, halaman 250).
Dari sekian banyak pendapat tentang tema ini sepakat bahwa cicak mengandung penyakit, atau keburukan secara fisik.
Namun, muncul pertanyaan tambahan, (disebabkan beberapa kejadian saat terapi ruqyah).
Pertanyaan tersebut adalah apakah cicak dan tokek, juga “membawa penyakit ghaib”?
Informasi yg ada ttg cicak “membawa penyakit ghaib” ini banyak kita temukan dalam dunia supranatural.
Bisakah konsep ini diadopsi dalam dunia ruqyah syar’iyyah untuk “mengembangkan” makna fasik pada cicak?
Jika kita anggap hal ini benar, maka perlu dukungan nash atau pendapat ulama bhw cicak mmg terkait dg jin. Karena penjelasan ulama tentang fasiknya cicak dikaitkan dengan perilakunya meniup api yg membakar nabi Ibrahim, dan dikaitkan dengan sakit fisik.
Sedangkan untuk dikaitkan dg tema jin, maka ini perlu penjelasan kajian dari para ulama. Jika kita belum menemukan penjelasannya maka cukupkanlah dg tafsir yg sdh ada.
Maka, bagi kita, sebaiknya bagaimana sikap kita saat kita melihat “ hal dhohir” saat terapi atau pasca terapi?
a. Selalu ikhtiar mencari penjelasan para ulama jika kita sedang ingin memahami hal ghaib.
b. Berhati hati jika kita ingin mengembangkan makna tafsir dari nahs nash yang ada.
c. Jika tidak kita dapati ulama ‘mengembangkan’ makna dr hadits maka, kita cukupkan diri dg penjelasan tsb, dan tdk perlu “mengembangkannya”
d. Apa yg berkembang dalam dunia suprantural, perlu ditempatkan pada porsinya, jangan sampai menjadi tafsir baru, atau penjelas baru dari nash yg sdh ada.
e. Jika, kita dapati dalam pengalaman menunjukkan hal berulang kali, sdgkn belum kita temukan penjelasan ulama maka, sebaiknya apa yg kita temukan tersbut disikapi sbg wawasan saja. Dan tetap tidak meyakininya secara final, sampai ada penjelasan ulama yg kita temukan. Artinya tetap berikan peluang dlm kesimpulan tersebut “kemungkinan benar dan kemungkinan salah”.
Sebagai penutup ttg cara berpikir ini Saya kutipkan kisah yang disebutkan Imam Suyuthi dalam Luqath Al Marjan Fil Ahkamil Jan.
Ketika Umar bin Abdul Aziz berkunjung ke Makkah, berjalan di padang sahara, ia melihat seekor ular yang mati.
Lalu beliau membungkus ular tersebut dengan kain dan menguburnya.
Beberapa saat kemudian ada suara, “ Semoga Rahmat Alloh selalu menyertaimu wahai Surraq. Sungguh aku telah mendengar bhw Rasulullah mengatakan, ‘Wahai Surraq, kamu akan mati di padang sahara dan akan dikuburkan oleh orang yang terbaik dari ummatku”.
Umar lalu berkata, “siapa engkau?
“Aku adalah salah satu dari golongan jin, dan yang mati ini adalah Surraq. Bangsa jin yang berbaiat kepada Rasulullah tinggal hanya aku dan Surraq”
Ada beberapa kisah serupa dengan kisah ini yg disebutkan oleh Imam Suyuthi.
Dari kisah ini kita bisa belajar utk menelaah.
Seandainya peristiwa ular mati tadi, _tidak disertai dg Sabda Nabi,_ maka apakah ular tersebut bisa dianggap sebagai Bukan Ular biasa?
Tentu tidak.
Ular tersebut hanya akan dipahami sbg ular biasa.
Bahkan mungkin kisahnya tidak terekam dalam kitab para ulama.
Jadi, disinilah akhirnya kita pahami perlunya “support” pendapat ulama dan nash untuk bisa mengkaitkan hal dhohir dg dunia ghaib.
Wallohua’lam