Tidak Setiap Hal Bisa Langsung Dikaitkan Dengan Dunia Jin
October 6, 2020
True Stories Dalam Kelas Inspiratif QERM Online
October 7, 2020

FRAMING DALAM DIAGNOSA ITU BAHAYA

Bagian 1
By. M. Nadhif Khalyani
Bismillah
Salah satu persoalan penting dalam ruqyah adalah melakukan diagnose sebelum melakukan terapi. Hal ini wajar karena ruqyah adalah bagian dari pengobatan, maka tahapannya pun sama dengan pengobatan lainya, yakni memerlukan diagnose.
Hanya saja, dalam dunia ruqyah syar’iyyah, perlu berpegang pada kaidah dan tabiat dalam pengobatan ruhani. Mengapa hal ini perlu dilakukan dan kaidah atau tabiat apa yang perlu dipahami?
Dalam ruqyah kita dapati fakta atau tabiat, seperti ini kurang lebih :
a. Tema jin, sihir, dan ain, hakikinya adalah persoalanya yang ghaib. Terlepas apakah termasuk ghaib mutlak ataupun ghaib nisbi. Intinya tetap sama yakni berada dalam wilayah ghaib. Ini hal yang sangat mendasar yang harus disadari oleh terapis dan pasien. Apa implikasi dari hal ini?
b. Implikasi dari poin a adalah, dalam dunia ruqyah ini, setiap orang menjadi bisa menafsirkan seperti apapun berdasarkan pengalaman masing masing. Masalahnya, Kesimpulan dan tafsir tersebut tidak bisa diverifikasi. Dan persoalan lanjutannya adalah tidak ada yang bisa memastikannya secara final.
Mari kita buat contoh
Pasien A dan B, mimpi didatangi oleh lawan jenis berulang kali. Maka kemudian ada 3 terapis yang mendiagnosa gejala tersebut.
Terapis 1 menyimpulkan bahwa A dan B sedang terkena jin pecinta, lalu diruqyah dengan Al Baqarah, dan sembuh.
Terapis 2 menyimpulkan bahwa A dan B terkena sihir mahabbah, lalu diruqyah dengan Al Baqarah dan sembuh
Terapis 3 menyimpulkan bahwa A dan B mengalami trauma, lalu diterapi dengan bacaan Al Qur’an dan sembuh.
Maka dari ketiga terapis ini manakah yang benar diagnosanya? Bisa jadi benar semua atau salah semua. Dan ternyata yang berpengaruh adalah tetap bacaan bukan diagnosanya. Itu sebabnya, membuat posisi kesimpulan sbg hal yang final tidaklah tepat. Karena setiap orang bisa membuat kesimpulan sendiri sendiri. Dan tidak ada alat ukur untuk meverifikasinya.
Implikasi lainnya, jika cara berpikir ini tdk “dipagari” maka setiap orang, termasuk pasien akan tergiring dengan mudah menafsirkan apapun yg ia lihat, ia alami atau yg didengarnya. Semua dikaitkan dg kesimpulan yg ia yakini, pdhl belum tentu hal itu benar.
Ini efek yg prl disadari dlm tema jin dan pernak perniknya.
Maka disinilah perlunya diskusi dan sandaran hujjah.
c. Maka membuat scr final kesimpulan dlm dunia ruqyah adalah cara yang tidak tepat dalam diagnose. Perlu ada ruang bernama KEMUNGKINAN. Diagnose diposisikan sebagai dugaan, untuk mengarahkan cara berpikir terapisnya. Dan karena ini pula cara komunikasi terapis dan pasien tidak perlu diarahkan pada kesimpulan yang final pula. Terlebih lagi secara pasti menyebut bahwa Anda begini dan begitu.
d. Fakta berikutnya adalah, bahwa tema gangguan jin, dan sebagian sihir sangat erat dengan masalah psikis dan fisik. Hal lebih rinci ttg hal ini ada di buku Syaikh Ali Murtadha. Ada sebagian sakit psikis yang mirip dengan gangguan jin. Demikian pula kondisi fisik yang bentuk keluhan yang dirasakan pasien kadang sangat mirip dngan gangguan jin. Misalnya, orang yang keracunan, problem lambung, demam tinggi, dll. Jika kita renungkan hal hal diatas, maka mmberikan vonis atau kesimpulan scara final adalah langkah yang kurang bijak. Jadi sebaiknya, sebagai terapis :
a. tetaplah brpikir keras, mendiagnosa, karena ini adalah tabiat dalam pengobatan. namun tetap berikan ruang adanya kemungkinan kesimpulan lainnya. Karena sifat dasar gangguan jin adalah ghaib, maka kembalikanlah pada tabiat ini. Maka kesimpulan dalam diagnose diletakkan sbg dugaan.
b. Pilihlah komunikasi paling ringan dan sederhana yang mudah dipahami, mudah diamalkan oleh pasien. sifat dalam tema ini adalah ghaib, maka pasien tentu sangat sulit untuk menolak semua kalimat terapis. Karena sifatnya ghaib ini pula, semua kalimat terapis dengan sendirinya bersifat nisbi.